Tampilkan postingan dengan label Tips dan trik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tips dan trik. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 November 2009

Mencermati tentang Ketentuan Seragam Sekolah


Oleh: Akhmad Sudrajat

Seragam harus menutup aurat
Setiap negara memiliki kebijakan masing-masing dalam menentukan kewajiban mengenakan seragam sekolah bagi para siswa, khususnya pada siswa sekolah dasar dan menengah. Di Indonesia, ketentuan mengenakan seragam sekolah diterapkan secara beragam, baik berdasarkan jenjang maupun jenis pendidikan. Berdasarkan jenjang sekolah, pada umumnya seragam sekolah yang dikenakan siswa di Sekolah Dasar (SD/MI) berwarna putih (baju/bagian atas) dan merah (celana atau bagian bawah). Sementara di Sekolah Tingkat Pertama (SMP/MTs) berwarna putih (baju/bagian atas) biru (celana atau bagian bawah), sedangkan untuk seragam Sekolah Tingkat Atas (SMA/MA) berwarna putih (baju/bagian atas) abu-abu (celana atau bagian bawah). Ketentuan berseragam tersebut boleh dikatakan berlaku secara nasional. Kendati demikian, untuk sekolah-sekolah swasta, ada yang menerapkan secara penuh ketentuan seragam sekolah di atas, namun ada pula yang menerapkan ketentuan seragam sekolah khusus sesuai dengan kekhasan dari sekolah yang bersangkutan. Pada sekolah-sekolah muslim, ketentuan berseragam sekolah disesuaikan dengan ajaran Islam (misalnya, mengenakan jilbab bagi siswa perempuan, atau bercelana panjang pada siswa laki-laki).
Sejalan dengan penerapan konsep School Based Management, saat ini ada kecenderungan sekolah-sekolah negeri pun mulai menentukan kebijakan seragam sekolahnya masing-masing. Pada hari-hari tertentu mewajibkan siswanya untuk mengenakan seragam khas sekolahnya, meski ketentuan “seragam standar nasional” masih tetap menjadi utama dan tidak ditinggalkan.
Pada sekolah-sekolah tertentu, kewajiban mengenakan seragam telah menjadi bagian dari tata-tertib sekolah dan dilaksanakan secara ketat, mulai dari ketentuan bentuk, bahan, atribut yang dikenakannya, bahkan termasuk cara pembeliannya. Penerapan disiplin berseragam yang sangat ketat, kerapkali “memakan korban” bagi siswa yang melanggarnya, mulai dari teguran lisan yang terjebak dalam kekerasan psikologis sampai dengan tindakan kekerasan hukuman fisik (corporal punishment).
Sama seperti kejadian di beberapa negara lain, ketentuan mengenakan seragam sekolah ini keberadaannya selalu mengundang pro-kontra. Di satu pihak ada yang setuju dan di pihak lain tidak sedikit pula yang memandang tidak perlu ada seragam sekolah, tentunya dengan argumentasi masing-masing. Bahkan di mata siswa pun tidak mustahil timbul pro-kontra. Lumsden (2001) menyebutkan beberapa keuntungan penggunaan seragam sekolah, diantaranya: (1) dapat meningkatkan keamanan sekolah (enhanced school safety); (2) meningkatkan iklim sekolah (improved learning climate), (3) meningkatkan harga diri siswa (higher self-esteem for students), dan (4) mengurangi rasa stress di keluarga (less stress on the family).
Mereka yang tidak setuju adanya aturan berseragam sekolah tentunya memiliki argumentasi tersendiri, biasanya dengan dalih pendidikan sebagai proses pembebasan dan proses keberagaman (bukan penyeragaman), apalagi dengan kecenderungan menjadikan seragam sekolah sebagai ritual tahunan “selingan bisnis” oknum tertentu, yang melihatnya sebagai sebuah peluang ekonomi.
Menarik, apa yang dikembangkan di SMA de Britto Yogyakarta, yang tidak mewajibkan siswanya mengenakan seragam secara ketat. Kecuali hari Senin dan hari-hari lain yang diumumkan oleh sekolah, para siswa diperbolehkan mengenakan pakaian bebas, yaitu baju atau kaos yang berkrah dan celana panjang bukan kolor. Meski tidak secara ketat menerapkan aturan berseragam, tetapi para siswanya tampaknya dapat menunjukkan prestasi yang membanggakan, baik secara akademik mau pun non akademik.
Hal lain yang mungkin perlu kita pertanyakan, kenapa pada umumnya siswa laki-laki di SMP saat ini masih diwajibkan mengenakan seragam sekolah dengan celana pendek. Secara psikologis, sebetulnya para siswa SMP tidak lagi disebut anak, mereka adalah kelompok siswa yang sedang memasuki remaja awal, dalam dirinya sedang terjadi perubahan yang signifikan, baik secara fisik mau pun psikis, termasuk di dalamnya ada keinginan mereka untuk menjadi dirinya sendiri dan memperoleh pengakuan untuk tumbuh dan berkembang menjadi orang dewasa. Kenapa tidak diberikan kesempatan untuk itu? Demikian pula dalam pandangan Islam, usia siswa SMP pada dasarnya sudah termasuk masa aqil baligh dan sudah dikenakan kewajiban (atau paling tidak dibelajarkan) untuk melaksanakan ibadah Shalat. Dengan kewajiban mengenakan celana pendek tentunya akan menjadi hambatan tersendiri untuk menjalankan ibadahnya.
Berseragam atau tidak berseragam memang menjadi sebuah pilihan, tetapi yang paling penting dalam proses pendidikan adalah bagaimana siswa dapat dikembangkan secara optimal segenap potensi yang dimilikinya sehingga mampu menunjukkan prestasinya, baik dalam bidang akademik maupun non akademik.
Bagaimana pendapat Anda?

Selasa, 27 Oktober 2009

Topi Untuk Berfikir

Topi untuk berfikir? Yah ini bukan sembarang topi.. kali ya? Ini adalah konsep pemikiran dari Edward de Bono. Ada warna-Warni topi yang bisa kita pakai. Ada warna-Warni sudut pandang orang dalam berfikir.

TOPI HITAM
Jika menggunakan topi ini, akan menjadi pribadi yang kritis, negative thinking, sekaligus pesimis, terhadap segala sesuatu.

TOPI PUTIH
apabila memakai topi ini tidak memiki perasaan, kepentingan, ataupun ego. Apapun yang masuk ke kepala dan keluar melalui mulut, hanyalah informasi dan data. Untuk memudahkan penjelasan, orang ini adalah sebuah komputer.

TOPI KUNING
Ceria, optimis, positive thinking. Tidak pernah mengeluh apalagi pesimis, meski tanpa argumen data, informasi yang sahih. Life is so beautiful di mata pemakai topi ini.

TOPI MERAH
Sensitif, emosional, temperamental. Mudah marah, senang, atau sedih tanpa alasan yang jelas.

TOPI HIJAU
Pribadi yang kreatif, nyentrik, hingga nyeleneh. Menggambarkan pemikiran yang selalu berada di luar kotak. Keluar dari pola-pola berpikir biasa untuk menghasilkan konsep-konsep dan persepsi-persepsi baru.

TOPI BIRU
Bijaksana. Topi biru adalah topi kendali. Berpikir tentang berpikir yang diperlukan untuk menjelajahi subjeknya. bagai seorang pemimpin orkestra yang mengimbau pemakaian topi-topi lainya. Pemakai topi biru bisa menyusun fokus, membatasi persoalan, membentuk pertanyaan-pertanyaan, membuat ikhtisar, tinjauan luas dan kesimpulan.

Satu hal yang perlu diingat bagi yang ingin menggunakan topi-topi diatas, sebaiknya menggunakan satu topi dalam satu kesempatan. Misalnya, jangan memakai topi hitam sekaligus topi kuning. Jelas tidak bisa menjadi orang pesimis sekaligus optimis. Tujuan keenam topi berpikir adalah menguraikan berpikir sehingga seorang pemikir mampu menggunakan satu gaya berpikir pada suatu waktu, daripada mencoba melakukan setiap hal dalam sekejab.

Ini menjadi sebuah permainan, saat orang sebagai subjek melihat objek - realita di sekitarnya - dan bermain peran dengan menggunakan topi-topi diatas untuk berpikir
Dalam kenyatannya, ada berbagai karakter dan cara berpikir yang kita temui, seringkali merupakan gabungan dari beberapa topi, tetapi tidak sedikit gagal dalam memecahkan sebuah permasalahan. Atau seringkali kita berusaha memenangkan suatu perdebatan dengan mendengar lawan hanya untuk menyerang dan memperlihatkan kelemahannya. Saat demi saat kita menyerang dan bertahan. Masing-masing pihak bereaksi kepada pihak lainnya, inilah yang disebut dengan berpikir reaktif.

Contoh orang dalam diskusi yang menggunakan beberapa topi

Teman dengan TOPI HITAM
" untuk apa kita sebagai anggota harus memberi uang buat organisasi, sedangkan selama ini apa yang kita dapatkan? Kegiatan tidak ada, cuman 1x setahun itupun penerimaan anggota setelah itu kita-kita ditelantarkan. .lalu jika kita diminta iuran, uangnya mau dikemanakan? Untuk acara makan-makan pengurus?"

Teman dengan TOPI PUTIH
"jumlah pengurus 10 orang ditambah dengan penerimaan anggota, terakhir 30 anggota, PC kita memiliki 40 orang anggota. Jika semua dapat menyumbang 5 ribu sebulan, maka kita akan mendapatkan uang sebesar 200 ribu. Cukup untuk melakukan kegiatan bersama seperti kajian agama, atau bahkan lebih jika untuk selanjutnya kita tetap konsisten membayar iuran setiap bulan."

Teman dengan TOPI KUNING
"setuju! Ide yang luar biasa bagus!saya akan membayar sekarang juga. Saya yakin kita akan makin maju dan berkembang dengan anggota dan pengurus yang kompak seperti saat ini."

Teman dengan TOPI MERAH
"sebagai pengurus saya kecewa dengan perkataan anda yang meragukan komitmen kami untuk menjaga keuangan organisasi. Jika terus begini, lebih baik saya mengundurkan diri."

Teman dengan TOPI HIJAU
"mengapa selalu kita mengumpulkan uang dengan meminta iuran kepada anggota? Kita khan bisa memintanya pada alumni saja? Buat proposal, ajukan pada instansi ..setuju gak dengan kegiatan kita? Atau gimana kalo kita menjual buku/majalah dsbnya? kita juga bisa menjadi event organizer (penyelenggara) seminar, lalu dana kita dapatkan dari mereka yang tertarik. Gitu aja koq repot?"

Teman dengan TOPI BIRU
" saya dapat merasakan kekecewaan anggota dan pengurus selama ini. Ini adalah kekecewaan kita bersama. Berangkat dari itu mari kita bangkit dan mencari solusi bersama. Saya sepakat iuran anggota harus kita kelola dengan manajemen keuangan secara terbuka, dan alternative- alternatif pendanaan juga harus kita usahakan. Usul teman-teman semuanya sangat baik. Mari, mulai saat ini kita kita lupakan kekecewaan-kekecewa an dan memetik hikmah dari kesalahan yang pernah kita lakukan. Bersama kita bisa. Kita tidak sendiri

Sekarang, apakah memakai topi-topi ini? Atau tidak sama sekali?
Silakan, tapi jangan katakan semuanya tidak berpikir.
TUDE
[tulisan ini adalah adaptasi dari buku SIX THINKING HATS, Edward de Bon.